WACANA SEMI ILMIAH

Sering kali terjadi suatu percakapan yang berbuntut debat argumentasi diakhiri dengan satu pernyataan benar dan salah. Pihak yang menang debat puas dengan kemenangannya, yang berarti landasan teori, cara pandang, dan sebaginya diterima oleh pihak yang kalah, sementara pihak yang kalah terkadang menerima hal itu dengan  setengah hati, dengan penuh kekecewaan.

Berdebat ataupun berargumentasi memanglah tepat untuk merumuskan sesuatu standart tertentu dari pokok pembicaraan yang dimaksud, hanya saja seringkali tak kita sadari bahwa belum tentu cara pandang yang kita yakini sebagai landas berdebat ataupun berargumentasi tersebut sebetulnya memang hakiki dari kebenaran tersebut. Hanya saja karena kepandaian berbicara terkadang menjadi penentu kemenangan dalam rangka mencari kebenaran tersebut.

Apabila diperhatikan ada beberapa unsur dari kebenaran manusia, yang berbeda satu dengan yang lain:

  1. Unsur pengaruh sistem nilai yang berlaku dilingkungan kita, contohnya suatu instansi yang para karyawannya terbiasa me markup suatu proyek. Karena sudah menjadi kebiasaan maka jikalau ada seorang yang tidak melakukan itu dianggap tidak benar.
  2. Unsur penanaman moral dalam keluarga ataupun masyarakat, contohnya jika di suatu keluarga atau masyarakat judi dianggap hanya sebagai suatu kegiatan sehari-hari dan lumrah, maka dianggap judi adalah tindakan yang benar.
  3. Unsur adat istiadat atau budaya atau kebiasaan yang bergeser seiring kemajuan zaman, contohnya budaya Indonesia yang meletakkan etika kesopanan sebagai suatu hal utama ternyata pada saat telah jauh bergeser, dahulu seorang anak kalau akan pergi cium tangan ke orang tuanya, sekarang banyak sekali anak yang tak pernah melakukan hal itu seumur hidupnya. Bisa saja pengaruh budaya asing yang masuk ke Indonesia yang menyebabkannya.
  4. Unsur tingkat pemahaman / pengetahuan terhadap sesuatu hal, contohnya jika pengetahuan petani tradisional jelas tidak sama dengan petani modern dalam hal bagaimana cara menanam padi yang baik.

Adanya unsur-unsur inilah yang membentuk sudut pandang yang berbeda antara yang satu dengan yang lain.


Sebagai salah satu contoh adalah apabila anda lihat gambar di atas tersebut. Jika sudut pandang kita condong ke kiri maka yang ada adalah gambar bebek, tapi apabila kita melihat dari kanan maka yang ada adalah gambar kelinci. Kalau begitu, sudut pandang siapa yang benar? Kalau kita tafsirkan itu gambar bebek adalah benar, dan kalau kita tafsirkan sebagai gambar kelinci hal itu juga benar. Lalu siapa yang salah? Tidak ada.

Sebagai contoh yang lain adalah gambar berikut ini,

Cobalah anda tafsirkan sebagai gambar apa untuk hal itu. Jika anda katakan itu peniup terompet, maka jawabannya adalah benar, dan apabila ditafsirkan sebagai wajah seorang wanita, maka hal itupun benar.

Nah, seperti gambaran contoh di atas maka perlulah kita pahami bahwa belum tentu sudut pandang kita itu adalah sangat benar untuk suatu obyek atau masalah, hanya saja karena sistem nilai, moral, adat budaya maupun tingkat pendidikan, yang telah tertanam semenjak kita lahir maka secara tak sadar kita sudah meletakkan posisi diri kita di satu sudut pandang saja. Dan terkadang semua yang telah tertanam dalam diri kita adalah sebagai landas kebenaran terhadap suatu obyek tertentu.

Harus kita sadari bahwa segala yang menyangkut kehidupan manusia, memiliki standart yang berbeda-beda dalam hal menyatakan suatu pendapat. Orang Afrika pedalaman akan mengatakan gadis dari sukunya sangat cantik dibanding Dona Agnesia. Mengapa? Karena sudut pandang yang terbentuk terhadap kecantikan adalah seperti itu. Bagaimana menurut anda? Apakah mereka salah dalam mengukur kecantikan? Mungkin bagi anda salah tapi bagi mereka tidak, karena kita dan mereka ternyata memandang obyek tersebut dengan sudut pandang yang berbeda.

Orang Papua pedalaman mernyatakan cukup sopan apabila hanya menggunakan koteka, tapi bagaimana pendapat lingkungan anda jika anda berjalan-jalan ke mall Taman Anggrek hanya dengan menggunakan koteka? Anda akan disalahkan, karena sistem budaya di Jakarta berbeda dengan sistem nilai budaya di Papua, lalu apakah orang Papua salah? Tentu saja tidak. Dan satpam mall Taman Anggrek salah? Ia pun juga tak salah dalam menyikapi hal tersebut.

Dalam ilmu matematika mungkin kita akan menemukan sekian banyak jawaban yang berbeda terhadap penafsiran angka satu (1). Ada yang menyatakan angka satu adalah merupakan penjumlahan dari ½ dengan ½ , sementara yang lain mengatakan adalah pengurangan dari angka tiga dikurang dua, sedangkan yang lain menyatakan merupakan penjumlahan angka nol dengan satu. Lalu pendapat siapa yang salah? Tidak ada karena setiap orang telah menganut satu bentuk keyakinan terhadap kebenaran jawabannya. Meskipun demikian, masihlah ada nilai salah dalam kehidupan kita. Contohnya, jika ada yang mengatakan manusia adalah dari batu, maka tentu saja berdasarkan kenyataan yang ada belum pernah ada manusia yang terlahir dari batu, baik itu secara fakta, nyata maupun realita.

Sehingga dalam hal ini suatu kebenaran tetaplah harus didukung dengan fakta, nyata maupun realita yang ada, bukanlah sekedar teori saja, tetapi nyata dalam kehidupan kita. Mungkin kita akan mendebat satu sudut pandang orang lain yang kebetulan bersebrangan dengan kita, dengan menggunakan dalil-dalil yang kita miliki, tapi di pihak yang lain juga mempunyai dalil yang sama kuatnya. Akhirnya titik puncaknya adalah perselisihan.

Mungkin sudah saatnya kita mencoba menganalisa dan membuktikan dahulu kebenaran pemahaman kita sebelum menilai sesuatu, dan kita akan lebih bijaksana lagi apabila bisa memandang satu obyek dari berbagai sudut yang berbeda, sehingga kita bisa memahami tentang kebenaran sudut pandang orang lain sebelum kita menyalahkannya.

Sumber : Mas Bambang Purnomo Sigit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: